30 June 2017 13:12 WITA

Sulsel Masuk 3 Besar Kasus Kecelakaan Mudik Lebaran Tahun 2017

Editor: Mulyadi Abdillah
Sulsel Masuk 3 Besar Kasus Kecelakaan Mudik Lebaran Tahun 2017
Sebuah mobil mengalami kecelakaan di Kampung Soreang, Kelurahan Bontolangkasa, Pangkep, Jumat (23/6/2017). Empat orang penumpang dilaporkan meninggal dunia.

RAKYATKU.COM - Polri mengklaim angka kecelakaan berlalu lintas pada arus mudik lebaran tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun 2016 lalu.

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, 2016, selama Operasi Ramadniya hingga H+2 Lebaran‎ terjadi penurunan kecelakaan. Tahun 2016 ada 1.515 kejadian, kalau 2017 ada 1.299, jadi turun 14 persen,” ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Kombes Martinus Sitompul dikutip dari Tribrata, Jumat (30/6/2017).

Dari ribuan kecelakaan tersebut, lanjut Kombes Pol Martinus Sitompul, didominasi dari tiga daerah dengan sejumlah kasus yang menonjol, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Mobil Pemudik Kecelakaan di Pangkep, Empat Tewas

Polda Jawa Timur dinilai menjadi daerah yang paling banyak terjadi kecelakaan, yakni 50 kejadian. Dari 50 kejadian kecelakaan itu, 11 orang meninggal dunia, kemudian luka berat 10 orang, luka ringan 80 orang, dan kerugian materiil mencapai Rp 58 juta.

Sedangkan yang kedua Polda Jateng dengan jumlah kecelakaan 22, korban meninggal dunia 4 orang, luka berat 4 orang, luka ringan 37 orang dan kerugian materiil Rp 32 juta.

“Yang ketiga, adalah Polda Sulawesi Selatan. Di wilayah ini terjadi 15 kecelakaan dengan korban meninggal dunia dua orang, korban luka ringan 25 orang, dan kerugian materiil sebanyak Rp 30 juta,” ungkap Martinus.

Martinus melanjutkan, korban meninggal dunia juga mengalami penurunan dari 294 pada 2016, kini menjadi 292 di tahun 2017 atau selama 8 hari Operasi Ramadniya.

Korban luka berat pada musim mudik lebaran tahun ini turun 26 persen dari 478 pada 2016 menjadi 356 di tahun 2017. Korban luka ringan juga turun 14 persen dari 1.959 pada 2016 menjadi 1.682 di tahun 2017.

“Terakhir kerugian materiil, di tahun 2016 sebanyak Rp 3.648.957.050 turun 25 persen dibanding 2017 yakni Rp 2.727.364.750,” pungkas Martinus.