17 June 2017 14:39 WITA

Pengalaman 19 Jam Puasa di Newcastle 

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Pengalaman 19 Jam Puasa di Newcastle 
Ashabul Kahfi Susanto

RAKYATKU.COM - Di Indonesia, durasi pelaksanaan puasa kurang lebih 13 jam. Berbeda dengan Inggris, umat muslim harus menahan lapar dan haus selama 19 jam. Hal ini yang harus dirasakan oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menutut ilmu di Inggris, khususnya Kota Newcastle upon Tyne.

Dengan waktu malam yang hanya berkisar 5 jam, umat muslim harus mengubah pola hidupnya selama Ramadan. Karena rentan waktu untuk ibadah Magrib, Isya, Tarawih, dan Subuh sangat mepet. 

Ashabul Kahfi Susanto, mahasiswa asal Indonesia yang saat ini menuntut ilmu di Newcastle University UK, harus mengubah waktu tidurnya selama Ramadan. Pasalnya, Ramadan tahun ini bertepatan dengan musim panas, sehingga durasi malam sangatlah singkat. 

"Terbitnya fajar itu sekitar pukul 2.45 dan waktu magrib nya sekitar pukul 21.45. Sholat Isya berjama'ah dilaksanakan pukul 23.25 dan dilanjutkan dengan sholat tarawih dan witir, yang selesai sekitar pukul satu malam. Jadi, alternatifnya adalah pola tidur yang harus diubah selama menjalankan ibadah puasa. Saya dan teman-teman mahasiswa muslim, serta umat muslim di UK tidak tidur sampai menunggu waktu sahur dan subuh," tutur Abhul, sapaan akrab Ashabul Kahfi.

Karena aktivitas kampus dimulai pukul 11.00, maka ia biasa tidur pada pukul 5.00 hingga 10.00. Para mahasiswa muslim di sana biasa menghabiskan waktu hingga jelang buka puasa di kampus. Begitu pula dengan pria asal Sidrap ini. Dirinya juga tidak perlu khawatir untuk menu berbuka puasa. Meski Islam minoritas di Inggris, namun fasilitas dan akses ibadah umat muslim cukup memadai, termasuk di dalam kampus.

"Alhamdulillaah, di Mushollah Kampus (Newcastle University Islamic Society) ada disediakan takjil dan menu buka puasa. Di akomodasi tempat saya tinggal juga tidak perlu dikhawatirkan mengenai akses untuk beribadah karena ada juga masjid terdekat, Newcastle Central Mosque, yang juga menyediakan takjil dan menu berbuka puasa," jelas Abhul.

Menurut pria kelahiran Tanrutedong 1 Agustus 1993 ini, Inggris merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai multikultural dan toleransi antar umat beragama. Kesibukannya di kampus pun memudahkannya dalam menjalani ibadah puasa selama 19 jam.

"Khususnya untuk mahasiswa muslim tergolong minoritas di Inggris. Tapi kami tidak pernah merasa khawatir dalam melaksanakan ibadah. Bahkan bila dalam proses belajar mengajar berlangsung dan ada mahasiswa muslim yang hendak melaksanakan sholat, kami tidak perlu merasa sungkan untuk meminta izin ke dosen, karena dosen di Inggris pun sangat mengerti dan menghargai mahasiswa yang hendak beribadah," jelasnya.

Menurut mahasiswa yang mengambil Program Magister Cross-Cultural Communication and Applied linguistic ini, menuntut ilmu di Inggris, khususnya di Newcastle University UK, tidak hanya mendukung dan menunjang akses dalam proses memperoleh ilmu. Tetapi juga sangat mendukung perjalanan spiritualnya sebagai umat muslim. 

Bahkan, Mushollah kampusnya, Newcastle University Islamic Society memberikan wadah untuk mahasiswa muslim untuk melaksanakan Qiyamul Layl (Sholat Malam) dan I'tikaf selama 10 malam terakhir Ramadan. Begitu pun di Newcastle Central Mosque, yang juga menyediakan menu sahur, sehingga para mahasiswa dapat tinggal di masjid hingga waktu subuh.

Di Newcastle UK sendiri, terdapat komunitas mahasiswa muslim Indonesia, yakni Al-IMANu (Indonesian Muslim Association Newcastle upon Tyne), dan Abhul termasuk di dalamnya. Komunitas ini rutin menggelar pengajian bulanan dan berbagi ilmu-ilmu agama.  

"Kami juga belum lama ini mengadakan berbuka puasa bersama, khusus mahasiswa muslim di Newcastle, salah satu teman menyediakan makanan-makanan Indonesia, seperti sate padang, lontong, dan lainnya. Setidaknya dapat mengobati rindu kami terhadap makanan-makanan Indonesia," pungkas Abhul.