Sabtu, 18 Januari 2020 05:00 WITA

Istigfar atau Selawat, Mana yang Lebih Utama?

Editor: Nur Hidayat Said
Istigfar atau Selawat, Mana yang Lebih Utama?
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Allah swt memerintahkan untuk senantiasa beribadah dan selalu mengingatnya, salah satunya dengan berzikir. 

Disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa keutamaan zikir adalah dapat menenangkan hati. Allah befirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram". (QS. ar-Ra’du: 28).

Jenis-jenis zikir sangat banyak macamnya. Ada kalimat hauqolah (lahaula wala quwata illa billah), istigfar (astaghfirullahaladzim), asmaul husna, berelawat kepada Nabi Muhammad saw dan lain sebagainya. 

Mengenai berselawat kepada Rasulullah saw, Allah swt menjelaskan keutamaannya secara istimewa, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 56:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berelawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berelawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [QS: al-Ahzaab: 56]

Dari sekian banyak macam zikir dan selawat, Imam ar-Ramly Rahimahullah pernah ditanya mengenai lebih utama mana antara sibuk berselawat atau beristigfar, beliau lantas menjawab:

Imam Al Ramliy pernah ditanya, mana yang lebih utama (afdhol), menyibukkan diri beristigfar atau berselawat pada Baginda Nabi Muhammad saw? 

loading...

Ataukah dibedakan antara orang yang ketha’atannya lebih banyak itu lebih utama berselawat, dan orang yang ma’syiyatnya lebih banyak itu lebih utama beristigfar?

Beliau imam Al Ramliy menjawab, menyibukkan berselawat dan taslim pada Baginda Nabi? lebih utama (afdlol) dari pada menyibukkan beristigfar, muthlaq tanpa dibedakan bagi orang yang ketha’atannya atau ma’syiyatnya yang lebih unggul. [Fatawa Ar Ramly Juz 4 halaman 318??].

Dari penjelasan imam Ar Ramly di atas bisa kita simpulkan bahwa menyibukkan diri untuk bershalawat pada nabi lebih utama daripada beristigfar, namun menurut beliau keutamaan tersebut tanpa membedakan untuk orang yang ahli dzikir. 

Artinya, semua zikir itu sama saja, tergantung pada orang yang istikamah mengamalkannya.

Wallahualam.

Sumber: Islami.co

Loading...
Loading...