Rabu, 06 November 2019 05:00 WITA

Bahaya Menyampaikan Ayat Alquran atau Hadis Sepotong-Sepotong

Editor: Nur Hidayat Said
Bahaya Menyampaikan Ayat Alquran atau Hadis Sepotong-Sepotong
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - KH Ahmad Bahaudin Nur Salim atau yang lebih dikenal dengan Gus Baha tergolong ulama yang masih muda, tetapi memiliki ilmu yang luas dan digandrungi umat Islam dari berbagai kalangan.

Pengajian Gus Baha sangat mudah ditemui di media sosial. Cara penyampiannya yang mudah dipahami, meskipun mengusung materi yang berat, membuatnya menjadi ulama muda yang spesial saat ini.

Dalam salah satu pengajiannya, Gus Baha pernah menjelaskan mengenai bahaya dari mengutip suatu ayat, hadis maupun perkataan ulama secara sepotong-potong.

"Memang semenjak dunia medsos, dengan tanda kutip sudah kecelakaan. Mengutip perkataan tokoh atau apa hanya sepotong-potong,” katanya.

Gus Baha menjelaskan mengenai fenomena banyaknya orang yang menyampaikan sesuatu tidak secara utuh atau lengkap, dengan argumen mengikuti hadis nabi yang berbunyi,

"Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat”.

Jika ditelaah lebih lanjut mengenai hadis tersebut dalam kitab Sahih al-Bukhari, hadis tersebut masih terdapat lanjutannya. 

Selain itu, hadis tersebut dalam kitabnya Imam al-Bukhari tidak dimasukkan dalam bab dakwah, akan tetapi malah dalam bab mengenai sesuatu yang diucapkan dari Bani Israel. Jadi, salah besar apabila hadis tersebut dijadikan dalil untuk berdakwah dengan modal ilmu yang minim.

Kemudian, Ibnu Hajar al-Asqalani juga menjelaskan maksud hadis tersebut dalam kitab Fathul Bari, yaitu bahwa hadis tersebut bermaksud supaya para sahabat yang mendengarkan ayat yang diturunkan kepada Rasuullah saw supaya segera menyampaikannya kepada sahabat lain. Hal tersebut dikarenakan semua sahabat tidak dalam satu tempat, ketika suatu ayat turun.

Gus Baha melanjutkan penjelasannya mengenai bahaya mengutip sebagian perkataan ulama atau ayat Alquran dengan analogi waqaf pada ayat Alquran.

Loading...

“Alquran, kalau waqafnya salah, ya bahaya, misalnya begini, ada orang waqaf (berhenti membaca ayat) sembarangan di depan orang yang paham bahasa Arab,” lanjut beliau.

Gus Baha mengutip surat al-Baqarah ayat 26: “Sesungguhnya Allah tidak malu (segan) untuk membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih dari itu”.

Misalkan saja, ada seseorang yang membaca ayat tersebut di depan orang yang paham bahasa Arab dengan membaca waqaf pada lafaz la yastahyi. Gus Baha mengatakan bahwa tentu ayat tersebut memiliki arti yang bahaya, yaitu Allah swt tidak mempunyai rasa malu.

“Di Alquran itu, ada waqaf yang haram, yaitu waqaf yang merusak makna,” terang murid Mbah Maimun Zubair ini.

Ayat di atas jelas tidak boleh dibaca sepotong, karena akan memiliki maksud yang jauh dari maksud asalnya, yaitu bahwa sesungguhnya Allah swt tidak akan malu membuat suatu perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari nyamuk. Ayat tersebut merupakan penjelasan bahwa Allah swt tidak segan atau malu ketika membuat perumpaan dalam kalam-Nya dengan menggunakan contoh dalam wujud nyamuk.

“Jadi (maksud lafaz ayat dalam) ballighu ‘anni walau ayat itu bukan ayat Alquran yang potongan, akan tetapi ayat yang muhkamah (memiliki maksud yang utuh),” tutur Gus Baha.

Apa yang telah disampaikan oleh Gus Baha adalah benar apa adanya. Penjelasan atau penafsiran suatu ayat Alquran maupun hadis tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang dengan modal ayat yang sepotong-potong.

Wallahualam.

Sumber: Islami

Loading...
Loading...