Selasa, 22 Oktober 2019 05:30 WITA

Sedekah atau Memberi Utang, Mana yang Lebih Utama?

Editor: Nur Hidayat Said
Sedekah atau Memberi Utang, Mana yang Lebih Utama?
Ilustrasi.

RAKYATKU.COM - Sebagai umat Islam, dianjurkan untuk saling bahu-membahu. Sebagai makhluk sosial, kita diperintahkan untuk saling bantu. Allah swr berfirman dalam Al-Qur’an:

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." (QS Al-Ma’idah: 2)

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw, orang yang melapangkan kesempitan saudaranya, akan dilapangkan oleh Allah swt.

"Barangsiapa melapangkan satu macam kesempitan dari aneka macam kesempitan yang dialami saudaranya, Allah akan melapangkan kesempitan penolong itu dari kesempitan-kesempitan hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi (aib) orang muslim, Allah akan menutupi aibnya baik di dunia maupun di akhirat. Barangsiapa memudahkan urusan orang yang sedang kesusahan, Allah akan memudahkan urusannya di dunia maupun di akhirat. Allah selalu dalam pertolongan seorang hamba selama ia mau menolong saudaranya.” (Sunan at-Tirmidzi: 2869)

Menolong orang lain dapat diaplikasikan dalam berbagai macam. Bisa memberi utang orang yang sedang membutuhkan maupun memberi harta kepada orang lain.

Namun, secara pahala, apabila ditimbang-timbang, pahalanya besar mana antara memberi orang secara cuma-cuma dengan memberi utang?

Berikut ada satu hadis yang dikutip beberapa kitab hadis di antaranya dalam Sunan Ibnu Majah, Faidlul Qadir, Jâmiul Ahadits beserta sumber lain yang mengisahkan bahwa saat melakukan perjalanan isra Mikraj Rasulullah saw melihat di dalam pintu surga tertulis, sedekah dibalas oleh Allah 10 kali lipat, sedangkan memberikan utang pahalanya 18 kali lipat. 

Teks lengkap hadis sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dari Rasulullah saw sebagai berikut:

Loading...

“Saya melihat di saat saya diisrakan pada pintu surga tertulis, sedekah dilipatgandakan 10 kali lipat. Memberi utang dilipatkan 18 kali lipat. Kemudian saya bertanya kepada Jibril, ‘Bagaimana orang yang memberi utang lebih utama dari pada bersedekah?”. Kemudian Jibril menjawab ‘Karena orang yang meminta, (secara umum) dia itu meminta sedangkan dia sendiri dalam keadaan mempunyai harta. Sedangkan orang yang berutang, ia tidak akan berutang kecuali dalam keadaan butuh’.” (Sunan Ibnu Majah: 2422)

Al-Hakim dalam Fathul Qadir memberikan ilustrasi dengan perbandingan di atas seperti berikut. Andaikan orang sedekah satu dirham, berarti Allah akan membalas satu dirham modal yang ia berikan kemudian ditambah sembilan dirham sebagai bonus.

Dan kalau orang yang memberi utang orang yang butuh, dari sembilan dirham bonus tersebut dilipatgandakan. Jadi jumlahnya total adalah 19 dirham. Maka perbandingannya adalah sepuluh dengan 18.

Meskipun diriwayatkan di beberapa kitab, ada banyak ulama yang menganggap hadis tersebut daif. Di antaranya adalah Khalid bin Zaid as-Syami. Demikian diungkapkan oleh Abdul Hamid as-Syawani-Ahmad bin Qasim al-Ubbadi, Hawasyi Tuhfatul Muhtaj bi Syarhil Minhaj, Musthafa Muhammad, Mesir, juz 5, halaman 36.

Kesimpulannya, antara sedekah dan memberi utang orang lain, adalah tindakan ibadah yang diperintahkan Al-Qur’an mapun hadis. Menurut satu hadis, memberi utang lebih unggul pahalanya. Terkait status daifnya, hadis itu tetap boleh diyakini dan diamalkan dalam konteks memperkuat amal kebaikan (fadlailum a‘mal).

Wallahualam. 

Sumber: Islami.co

Loading...
Loading...