Sabtu, 08 Juni 2019 06:30 WITA

Lima Tanda Diterimanya Amalan Puasa Ramadan

Editor: Abu Asyraf
Lima Tanda Diterimanya Amalan Puasa Ramadan
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Ramadan usai sudah. Anda di golongan mana? Kelompok yang hanya dapat lapar dan haus atau yang diterima amalannya?

Salah satu hadis yang mengkhawatirkan seputar Ramadan adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan Ath Thobroniy dalam Al Kabir.

"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga," Syaikh Al Albani mengatakan hadis ini shohih ligoirihi.

Nah, Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan beberapa tanda diterimanya amalan puasa oleh Allah subhanahu wata'ala. Salah satunya, dimudahkannya seseorang melakukan puasa Syawal.

"Kembali lagi melakukan puasa setelah puasa Ramadhan, itu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan. Karena Allah jika menerima amalan seorang hamba, Allah akan memberi taufik untuk melakukan amalan shalih setelah itu," katanya.

Sebagian ulama berpendapat bahwa balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya. Oleh karena itu, siapa yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amalan kebaikan yang pertama diterima. 

Sedangkan yang melakukan kebaikan lantas setelahnya malah ada kejelekan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.

Atau perkataan yang lainnya yang diutarakan oleh Ibnu Katsir ketika membahas tafsir surat Al-Lail, "Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya." (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 7: 583)

Berikut lima tanda diterimanya amalan puasa seperti dikutip dari kitab “Lathaa`ifu al-Ma’aarif” karya Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah:

1. Persepsi yang Benar

Amal yang dilakukan di bulan Ramadan tidak sampai membuat seseorang membeda-bedakannya dengan bulan yang lain. Ketika Bisyr Rahimahullah ditanya tentang orang yang bersungguh-sungguh beribadah hanya di bulan Ramadhan, beliau menjawab:

“Sejelek-jelak kaum adalah yang hanya mengenal hak-hak Allah di bulan Ramadan saja. Sesungguhnya orang saleh adalah yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun.”

Loading...

2. Tidak Ramadhan Oriented

Ketika Asy-Syibli rahimahullah ditanya mengenai amalan mana yang lebih utama antara Rajab dan Sya’ban, Beliau menjawab, "Jadilah orang yang Rabbani, dan jangan menjadi orang Sya’bani." 

Kata ‘Sya’baniyan’ juga bisa diganti dengan ‘Ramadhaniyan’. Artinya, beramal tidak tergantung bulan, tapi tergantung Allah.”

3. Kontinu

Bila di bulan Ramadan ia puasa, membaca Alquran dan qiyamul lail, maka di bulan-bulan lain juga mengamalkannya secara kontinu.

Ketika Aisyah Radhiyallahu ‘anha ditanya; Apakah Rasulullah mengkhususkan hari-hari tertentu (untuk beramal)? Beliau menjawab, "Tidak. Amalan beliau adalah berkesinambungan (kontinu)." (HR. Bukhari dan Muslim) 

4. Mendapat Taufik

Keempat, diberi taufik atau pertolongan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk mengamalkan kebaikan setelahnya. 

5. Selalu Bersyukur

Seseorang tidak boleh lupa bersyukur kepada Allah yang memudahkan dan memberinya taufik untuk beramal. 

Ketika Wahab bin Warad ditanya mengenai pahala amalan tertentu seperti thawaf dan semacamnya, beliau menjawab, "Jangan bertanya tentang pahalanya, tetapi bertanyalah: apa kamu sudah bersyukur kepada Allah yang telah memberi taufik dan pertolongan untuk melakukan amal kebaikan tersebut."

Tags
Loading...
Loading...