Sabtu, 25 Mei 2019 09:00 WITA

Mengapa Perlu Iktikaf dan Bolehkah Hanya di Malam Tertentu?

Editor: Abu Asyraf
Mengapa Perlu Iktikaf dan Bolehkah Hanya di Malam Tertentu?
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Peserta iktikaf mulai masuk hari ini, Sabtu (25/5/2019) atau bertepatan malam ke 21 Ramadan. Haruskah iktikaf untuk mendapatkan lailatukadar?

Iktikaf disebutkan dalam Alquran. Antara lain dalam Surat Al Baqarah ayat 187, "Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beriktikaf dalam masjid."

Lalu, dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, “Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam beriktikaf sepuluh akhir dari bulan Ramadan hingga beliau diwafatkan oleh Allah subhanahu wata'ala." (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama sepakat bahwa iktikaf hukumnya sunnah. Imam Ibnu ‘Arabi Al Maliki dan Ibnu Baththal memasukkannya ke dalam sunnah muakkadah karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya selama hidupnya.

Dan hukum asal ini berubah menjadi wajib jika seseorang bernazar untuk melakukannya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Umar radhiyallahu anhu bahwasanya beliau pernah bernazar untuk beriktikaf satu malam di masjid Haram, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ""Tunaikan nazarmu itu". (HR. Bukhari dan Muslim)

Iktikaf berlaku baik untuk muslim ataupun muslimah. Istri Nabi, Shafiyyah rahiyallahu anha ketika beliau menziarahi Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada saat iktikaf berkata, "Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam (beriktikaf) di masjid dan di sisinya terdapat istri-istri beliau (sedang beriktikaf pula)…". (HR. Bukhari dan Muslim)

Al Imam Ibnul Mundzir berkata, “Perempuan tidak boleh beriktikaf hingga dia meminta izin kepada suaminya dan jika perempuan itu beriktikaf tanpa izin, maka suaminya boleh mengeluarkannya (dari iktikaf). Dan jika seorang suami telah mengizinkan (istrinya) lalu mau mencabut izinnya maka hal itu dibolehkan baginya”.  (Lihat Fathul Bari 4 : 351)

KEUTAMAAN I’TIKAF

Iktikaf mempunyai beberapa keutamaan yang tidak terdapat pada ibadah lainnya, di antaranya:

1. Iktikaf merupakan wasilah atau cara yang digunakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk mendapatkan malam Lailatulkadar

2. Orang yang melakukan iktikaf akan dengan mudah mendirikan salat fardu secara kontinu dan berjemaah bahkan dengan iktikaf seseorang selalu beruntung atau paling tidak berpeluang besar mendapatkan shaf pertama pada salat berjamaah

3. Iktikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal dalam masjid, dan menjadikan hatinya terpaut pada masjid

Loading...

4.Iktikaf akan menjaga puasa seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa. Dia juga merupakan sarana untuk menjaga mata dan telinga dari hal-hal yang diharamkan

5. Dengan iktikaf membiasakan hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang sering membuat kebanyakan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.

WAKTU IKTIKAF

Iktikaf boleh dikerjakan kapan saja, namun lebih ditekankan pada bulan Ramadan, karena itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lebih utama dikerjakan pada sepuluh akhir Ramadan untuk mendapatkan Lailatulkadar.

Iktikaf yang wajib harus dikerjakan sesuai jumlah hari yang telah dinazarkan, sedangkan iktikaf yang sunnah tidak ada batasan maksimalnya. Hal ini disepakati keempat ulama mazhab, dan jumhur ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal ketika beriktikaf.

Hal ini berdasarkan atsar dari Umar radhiyallahu anhu dimana beliau mengabarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang nazar beliau untuk beriktikaf satu malam di masjid Haram. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya untuk menunaikan nazarnya.

Imam Nawawi rahimahullahu mengatakan, "Boleh seseorang beriktikaf sesaat dan dalam waktu yang singkat…”. (Al Minhaj 8 : 307)
     
Ulama berbeda pendapat tentang kapan awal masuknya seseorang yang mau beriktikaf ke dalam masjid. Jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang memulai iktikaf hendaknya memasuki masjid sebelum matahari terbenam. 

Pendapat yang kedua mengatakan, bahwa i’tikaf baru dimulai sesudah salat subuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu anha, "Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam jika hendak beriktikaf, beliau salat subuh kemudian masuk ke (mu’takaf) tempat iktikafnya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat ini dipegangi oleh Al Auza’iy, Al Laits dan Ats Tsauri serta dipilih oleh Al Hafizh Ibnu Hajar dan Al Imam Ash Shon’ani.

Dari dua pendapat yang ada maka yang paling dekat dengan dalil adalah pendapat yang kedua, yaitu masuk sesudah salat subuh, namun pendapat yang pertama lebih berhati-hati. 

Loading...
Loading...