Sabtu, 25 Mei 2019 07:30 WITA

Waspada, Inilah Perbuatan yang Dapat Menghapus Pahala

Editor: Abu Asyraf
Waspada, Inilah Perbuatan yang Dapat Menghapus Pahala
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Banyak orang yang merasa sudah menabung banyak pahala. Rajin bersedekah, menolong orang lain, salat, puasa, berbagai amalan lainnya.

Namun, tidak sedikit di antaranya yang tidak menyadari telah mengerjakan perbuatan yang dapat menghapus pahala tersebut. 

Sebenarnya amal salahe bisa menghapus dosa maksiat. Allah berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

Lalu, bagaimana sebaliknya? Apakah perbuatan maksiat bisa menghapus pahala amal saleh?

Dikutip dari Konsultasisyariah.com, Ustaz Ammi Nur Baits menjelaskan sejumlah perbuatan yang bisa menghapus pahala amal saleh.

Salah satunya adalah kekufuran dan kesyirikan. Di beberapa ayat, Allah menegaskan hal ini. Di antaranya firman Allah, "Andai mereka melakukan perbuatan syirik, maka akan hilang semua amal yang pernah mereka kerjakan." (QS. Al-An’am: 88)

Allah juga berfirman, "Jika kamu (Muhammad) berbuat syirik, sungguh akan terhapus semua amalmu dan sungguh kamu akan menjadi orang rugi." (QS. Az-Zumar: 65).

Sementara perbuatan dosa besar maupun dosa kecil, selain kekufuran dan murtad, dosa semacam ini tidak menghapus seluruh amal, juga tidak menghalangi diterimanya amal saleh. Namun bisa saja menghapus sebagian amal, sesuai tingkatan nilai dosa.

Kelak akan ditimbang. Jika amal baiknya lebih dominan dibandingkan dosanya, maka dia berhak mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika dosanya lebih berat dibandingkan amal baiknya, maka dia berhak mendapatkan hukuman.

Dari sahabat Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat. Lalu dibukakan kepadanya sembilan puluh sembilan catatan amal. Setiap catatan sejauh mata memandang. Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua hal ini? Apakah pencatatan-Ku (malaikat) itu telah menzalimimu?’. Orang itu berkata: ‘Tidak, wahai Tuhanku’. Allah berfirman: ‘Apakah engkau mempunyai ‘uzur/alasan atau mempunyai kebaikan?’. Orang itu pun tercengang dan berkata: ‘Tidak wahai Rabb’. Allah berfirman: ‘Bahkan engkau di sisi kami mempunyai satu kebaikan’. Tidak ada kezaliman terhadapmu pada hari ini’. Lalu dikeluarkanlah padanya sebuah kartu (bithaqah) yang tertulis: Asyhadu an Laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluh (aku bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya). Allah berfirman: ‘Perlihatkan kepadanya’. Orang itu berkata : ‘Wahai Rabb, apalah artinya kartu ini dengan seluruh catatan amal kejelekan ini?’. Dikatakan : ‘Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi”. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Lalu diletakkanlah catatan-catatan amal kejelekan itu di satu daun timbangan. Ternyata catatan-catatan itu ringan dan kartu itulah yang jauh lebih berat. Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat daripada nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (HR. Ahmad 6994, Turmudzi 2850 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Subhanallah. Orang ini datang menghadap Allah dengan penuh dosa, 99 catatan amal, satu catatan sejauh mata memandang, dan isinya catatan maksiat, namun karena amal tauhidnya yang terjaga dengan baik, itu bisa mengalahkan semuanya. Ini menunjukkan betapa besarnya fadhilah amal tauhid, yang bisa mengalahkan semua dosa.

Loading...

Kepentingan kita dari hadis ini, bahwa amal saleh dan perbuatan maksiat, akan ditimbang untuk ditentukan mana yang lebih dominan.

Syaikhul Islam rahimahullah pernah ditanya mengenai seorang muslim melakukan amal yang dijanjikan bisa mendapat istana dan pohon di surga, dan pepohonan itu akan ditanam di surga atas namanya. Kemudian dia melakukan dosa, yang menyebabkan dia berhak masuk neraka.

Pertanyaannya, jika dia masuk neraka, bagaimana bisa namanya di surga, sementara dia di neraka?

Jawaban beliau, "Jika dia bertaubat dari dosanya dengan taubat nasuhah, maka Allah akan mengampuninya dan tidak akan mengharamkannya untuk mendapatkan apa yang Allah janjikan baginya. Namun Allah akan memberikan itu untuknya. Dan jika dia belum bertaubat, maka akan ditimbang antara kebaikan dan dosanya. Jika pahalanya kebaikannya dominan dibandingkan dosanya, maka dia berhak mendapat pahala. Dan jika dosanya lebih berat dibandingkan amal baiknya, maka dia berhak mendapatkan adzab."

Kemudian beliau melanjutkan, "Sementara pahala yang dijanjikan untuknya, ketika itu terhapus disebabkan perbuatan dosa yang melebihi kebaikannya. Sebagaimana ketika dia beramal maksiat yang mendapat ancaman berhak di neraka, kemudian setelah itu dia melakukan amal soleh, maka akan menghilangkan dosanya." (Majmu’ Fatawa, 4/308).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa antara dosa dan pahala, saling menghapus. Sehingga orang yang melakukan ketaatan dan berhak mendapatkan keutamaan tertentu, pahala ini bisa hilang disebabkan maksiat yang dia lakukan.

Sebaliknya, orang yang melakukan maksiat, yang menyebabkan dia mendapatkan ancaman neraka, dosanya bisa hilang, dengan amal saleh yang dia kerjakan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan, "Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. Tirmidzi 3334, Ahmad 23280 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Karena itulah, bagian dari berbuat baik kepada diri kita sendiri, seusai berbuat maksiat, segera lakukan ketaatan, minimal dengan taubat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, "Ikuti perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapusnya." (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
 

Loading...
Loading...