Sabtu, 20 Oktober 2018 04:30 WITA

Memahami Wudu dan Manfaatnya untuk Kesehatan

Editor: Nur Hidayat Said
Memahami Wudu dan Manfaatnya untuk Kesehatan

RAKYATKU.COM - Setiap umat Islam yang sudah balig (dewasa) tentu sudah mengenal istilah wudu. Yaitu, suatu cara membersihkan diri dengan tujuan menghilangkan hadas dan najis yang ada di badan. Wudu adalah suatu ibadah yang disyariatkan dalam Islam.

"Hai, orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku. Sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Jika kamu junub, mandilah. Jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur." (QS Al-Ma’idah [5]: 6).

Kapankah waktu diperintahkan wudu tersebut?

Para ulama berselisih paham mengenai hal ini. Ada yang mengatakan, wudu diperintahkan bersamaan dengan kewajiban salat lima waktu dan itu terjadi saat di Makkah.

Yang lain berpendapat, wudu telah diperintahkan sebelum adanya salat. Namun, sebagian lagi menyatakan, wudu baru diwajibkan setelah Nabi Muhamamd saw hijrah ke Madinah. Alasannya, ayat di atas menunjukkan ciri-ciri ayat Madaniyah.

Inilah pendapat Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya Asbabun Nuzul.

Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa Aisyah kehilangan kalungnya, lalu Muhammad saw turut mencarinya. Namun, karena waktunya malam hari, agak sulit menemukan kalung tersebut hingga akhirnya tiba waktu Subuh. Saat terbangun, Muhammad saw bergegas untuk mendirikan salat dan mencari air wudu. Namun, Rasulullah tidak menemukannya. Maka, turunlah ayat ini yang membolehkan tayamum sebagai pengganti wudu bila tidak menemukan air.

Berkaitan dengan hilangnya kalung Aisyah ini, ayahnya, yakni Abu Bakar As-Shiddiq, sempat memarahinya dan mengatakan bahwa gara-gara kalung itu hingga akhirnya menimbulkan kesusahan (musibah) karena kaum Muslim tidak mendapatkan air. Namun, saat ayat tersebut diturunkan, Abu Bakar memuji Aisyah dan menganggapnya sebagai pembawa berkah.

Menurut As-Suyuthi, inilah pendapat yang paling kuat. Demikian diriwayatkan Imam Bukhari dari Amr bin al-Harits dari Abdurrahman bin al-Qasim. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam at-Thabrani dari Ubbad bin Abdillah bin Zubair yang bersumber dari Aisyah.

Wudu menjadi salah satu syarat utama diterimanya salat seorang Muslim. Allah tidak menerima salat tanpa bersuci.” (HR Muslim 224). Tidak diterima salat salah seorang dari kalian jika berhadas hingga dia berwudu.” (HR Bukhari No 135 dan Muslim 225).

Tujuan disyariatkannya wudu ini adalah untuk membersihkan segala kotoran najis dan hadas. Menurut Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim dalam kitabnya Fiqh at-Thaharah, najis dan hadas itu adalah kotoran manusia (tinja), air kencing, madzi, wadzi, darah haid, kotoran hewan yang tidak dimakan dagingnya, air liur anjing, daging babi, bangkai, sisa air yang diminum binatang buas, dan hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya.

Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Mumti’ ‘ala zadi al-mustaqni’ bab Thaharah (bersuci) menjelaskan, bersuci (thaharah) itu adalah membersihkan atau menghilangkan hadas yang menempel di tubuh, seperti kencing atau kotoran manusia.

Di samping itu, thaharah juga bermakna menghilangkan khabats (najis), seperti terkena suatu benda yang diharamkan karena kondisinya yang kotor atau menjijikkan. Dalam hal ini, kata Syekh Utsaimin, tidak termasuk racun.

Selain bertujuan menghilangkan hadas dan najis, thaharah (wudhu, tayamum, mandi, bersiwak, dan lainnya) bermanfaat untuk kesehatan jasmani dan rohani. Dalam hal berwudu, berbagai penelitian membuktikan bahwa wudu mengandung manfaat yang besar bagi kesehatan karena mampu merangsang dan menstimulus energi dalam tubuh serta melancarkan peredaran darah.

Sumber: Republika.co.id

Tags

Berita Terkait