Kamis, 14 Juni 2018 05:30 WITA

Sebelum Berpisah dengan Ramadan, Sebaiknya Renungi 5 Ayat Alquran Ini

Editor: Abu Asyraf
Sebelum Berpisah dengan Ramadan, Sebaiknya Renungi 5 Ayat Alquran Ini
Ustaz Muhammad Yusran Anshar Lc MA PhD

RAKYATKU.COM - Perpisahan itu akhirnya tiba juga. Hari ini, Kamis (14/6/2018) kemungkinan menjadi hari terakhir Ramadan 1439 Hijriah. Sebelum berpisah, aa baiknya merenungi beberapa firman Allah dalam Alquran tentang bagaimana mengakhiri dan melepas Ramadan, tamu yang kita cintai, tamu yang kita rindukan, dan yang begitu kita hormati.

Berikut lima firman Allah subhanahu wata'ala yang dimaksud:

Ayat Pertama

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…" (QS. An Nahl: 53)

Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa merenungi dan menyadari sekian banyak nikmat yang telah Allah berikan, di antaranya nikmat ber-Ramadan. Kita berhasil mendapatkan kesempatan Ramadan tahun ini, dan sebagian keluarga, sebagian tetangga kita tidak mampu ber-Ramadhan. Jangan kita sangka itu karena kita lebih mulia dari mereka…

Jangan kita sangka kita mampu laksanakan hari-hari Ramadan dengan sebaik-baiknya. Mungkin kita sudah berkali-kali khatam Alquran. Mungkin sudah rutin tarawih setiap malamnya bahkan mungkin kita memanfaatkan 10 hari terakhir Ramadan dengan iktikaf dan berbagai macam ibadah lainnya, mengejar lailatulkadar dan seterusnya.

Jangan sampai muncul pada perasaan kita, itu disebabkan kehebatan kita, disebabkan kemampuan kita, disebabkan kelebihan yang kita miliki, lalu kita lupa akan nikmat Allah Subhaanahu Wata’ala. Allah ingatkan model orang-orang yang tidak tahu berterima kasih pada Allah.

Dalam surah Al Qashas ayat 78 tentang seorang yang kaya raya, seorang yang jadi simbol kekayaan di zaman Firaun dan boleh jadi sepanjang zaman, yang dikenal dengan nama Qarun. Ketika orang-orang yang tertarik dengan dunia dan tidak paham akan akhirat.

Begitu terkagum-kagum sama seorang Qarun, bertanya apa kiatnya,apa resepnya sampai bisa kaya raya? Qarun berkata: “Saya miliki kekayaan yang begitu banyak, disebabkan ilmu yang saya miliki”. Dia lupa bahwa Allah lah yang berikan nikmat kekayaan kepada dia.

Dalam Al Quran Surah Azzumar ayat 49, “Jika seorang manusia ditimpa mudharat, kesusahan, musibah kemudian dia berdoa kepada kami. Ketika kami mengubah, beri kesembuhan, beri nikmat, hilangnya musibah tersebut, dia mengatakan saya bisa keluar dari musibah bencana dan kesusahan disebabkan karena ilmu saya”

Kata Allah inilah musibah yang sesungguhnya, ketika kita tidak menyadari kelemahan kita dan ketika kita tidak menyadari semua yang kita dapatkan semua semata-mata nikmat yang datang dari Allah. Dia lupa bahwa dulu dia ketika dapat musibah dia berdoa dengan bersungguh-sungguh kepada Allah, tapi ketika hilang musibah, lupa bersyukur.

Adapun orang-orang beriman dalam setiap kebaikan-kebaikan yang didapatkannya, baik yang sifatnya materi dunia apalagi yang sifatnya ukhrawi, ketika dimudahkan untuk lakukan ketaatan-ketaatan, dia akan selalu ingat nikmat-nikmat Allah.

Allah sebutkan dalam surah Al A’raf ayat 43 tentang para penduduk surga ketika mereka sudah masuk surga, ".... dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk…."

Itu pengakuan yang tulus dari orang- orang yang telah diberi kenikmatan berupa surga.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim Hadis Qudsi, Allah ingatkan: “Wahai hamba-hamba ku itulah amalan-amalan kalian yang saya akan hitung-hitung semua dan yang saya akan sempurnakan pahala-pahala nya untuk kalian sesuai dengan apa yang telah kalian lakukan.”

Siapa yang mendapatkan kemudahan berbuat kebaikan, jangan tepuk dada jangan bangga diri, ingatlah itu semua nikmat dari Allah…Namun jika termasuk tidak beruntung, tidak mendapatkan kebaikan, jangan dia cela, kecuali pada dirinya sendiri…

Oleh karena itu, Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana diriwayatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dan disebutkan Ibnu Majah dalam sunannya, jika dapat kebaikan dia tidak lupa katakan, “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat” yang artinya segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan-Nya menjadi sempurna segala amal sholih."

Di akhir-akhir Ramadan ini mari kita perbanyak pujian-pujian kepada Allah atas nikmat kemudahan bisa dapatkan Ramadhan tahun ini dan bisa insya Allah bisa kita akhiri Ramadhan…

Ayat Kedua

Jangan bangga terhadap Kebaikan yang telah dilakukan, iringi rasa cemas,takut dan penuh harap Allah menerima amalan.

Surah Al Maidah ayat 27: "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Dialog antara dua bersaudara, kedua anak Adam Alaihissalam telah memberikan persembahan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala. Satunya diterima persembahannnya dan satunya ditolak. Yang ditolak merasa sedih dan protes, maka diberikan informasi, diajari bahwa Allah cuma menerima pahala kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang bertaqwa.

Tidak semua kebaikan diterima pahalanya Allah. Ada yang sudah capek-capek tidak dapatkan apa-apa sesuai yang diinginkan, karena Allah hanya menerima yang datang dari yang bertaqwa. Siapa yang dikatakan bertaqwa? Allah katakan, jangan kalian merasa sok suci, sok bersih, sok baik, karena Allah yang paling mengetahui orang-orang yang bertaqwa.

Jika demikian maka tidak ada alasan bagi kita untuk mengklaim dan memastikan bahwa semua kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan sepanjang Ramadan ini dan bahkan sepanjang umur kita, telah diterima di sisi Allah Subhaanahu Wata’ala.

Oleh karenanya, apa yang telah kita selesaikan kebaikan, mari kita banyak berharap pada Allah Subhaanahu Wata’ala, tidak bangga diri, mari diliputi rasa kecemasan dan rasa ketakutan, jangan-jangan kita sudah capek-capek beramal tapi tidak diterima oleh Allah. Orang-orang yang beriman, orang yang banyak lakukan kebaikan adalah orang ketika justru banyak buat kebaikan mereka tambah rasa takut pada Allah…

Dalam Al Quran Surat Al Mukminun ayat 60: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka…"

Mereka-mereka ketika sudah lakukan kebaikan, hati mereka bergetar…

Aisyah Radhiyallaha Anha ketika baca ayat ini, mengatakan kepada Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, wahai Rasulullah, mereka-mereka itu yang sangat takut pada Allah, apakah dulu karena mereka adalah pezina, pembunuh, pencuri, sehingga begitu takut menghadap Allah? Kata Nabi, tidak wahai Aisyah.

Mereka Sebagaimana Allah katakan, adalah orang yang bersegera dengan melakukan kebaikan, tapi selalu merasa takut ketika berhadapan kepada Allah Subhaanahu Wata’ala…Mereka tidak pernah klaim sebagai orang-orang suci dan tidak pernah menafikan setiap amalannya diterima oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

Maka liatlah Nabi Ibrahim, bapak para Nabi, Ketika telah selesaikan proyek besar pembangunan Kakbah, pusat peribadatan kaum muslimin. Ketika selesai proyek raksasa ini, apa yang beliau katakan? Apakah beliau bangga diri, tepuk tangan dan semacamnya? TIDAK. Beliau justru mengatakan, bersama anaknya Ismail Alaihissalam, RABBANA TAQABBAL MINNA INNAKA ANTA SAMI’UN ‘ALIM"

Ya Allah Terimalah persembahan kami ini karena sesunguhnya Engkau Maha Mendengar dan Mengetahui.

Beliau yang Allah telah katakan, Allah telah mempersaksikan setiap perintah yang diperintahkan kepada beliau diselesaikan dengan sempurna, tapi beliau tidak pernah bangga diri, bahkan beliau minta kepada Allah, ya Allah terima apa yang saya lakukan ini…

Olehnya itu, ketika kita telah lakukan kebaikan, sudah beramal, sudah baca Al Qur’an, sudah tarawih, sudah puasa dan sudah sudah berbagai macam kebaikan lainnya, jangan tepuk dada, jangan bangga diri, bahkan mari kita mengharap amalan kita supaya bisa diterima di sisiNya

Fudalah bin Ubaid Radhiyallahu Anhu, seorang sahabat yang dipersaksikan masuk surga, karena ikut Baitur Ridwan, berkata, "Seandainya saya tahu ada kebaikan yang pernah saya lakukan walaupun sebesar biji sawi telah diterima oleh Allah, maka saya lebih sukai dari dunia dan isinya…”

Beliau sampai tidak yakin ada kebaikannya diterima walau sebesar biji sawi

Kisah yang lain, para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika bertemu saat salat Id, apa yang mereka lakukan? Imam Tabrani sebutkan dalam kitab Doa, dalam bab doa shalat Id. Ketika Wasilah bin Asqa dan Abu Umamah al basir bertemu, mereka saling mengatakan “TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKA”

Ini doa yang paling banyak dikatakan sahabat ketika lebaran, "Semoga Allah menerima dari kami dan dari mu, karena mereka tidak yakin amalannya diterima…"

Mereka tidak putus asa tapi mereka tidak pernah memastikan bahwa setiap amalannya pasti diterima oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala

Ayat Ketiga

Menutup Kebaikan dengan Istigfar

Surah Al Muzammil Penghujung ayat 20: "….Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Ayat ini berkaitan salat lail, salat yang tidak mudah, hanya orang-orang saleh yang mampu melakukannya, mengorbankan jatah tidurnya untuk menghadap Allah. Orang yang rajin tahajud saja suruh banyak-banyak istigfar…Ternyata semua ibadah yang diajarkan dalam Islam ditutup dengan istigfar.

Ketika kita telah wukuf di Arafah, ibadah yang paling mulia waktu haji wukuf di arafah, kita menuju musdalifah, kata Allah: banyak-banyak lah istigfar. Ketika selesai salat, salat ibadah yang mulia ditutup juga dengan kebaikan istigfar.

Umar bin Abdul Azis rahimahullah, khalifah pada zamannya ketika mau menutup hari-hari Ramadan, beliau utus surat ke gubernur-gubernurnya dan menitip pesan, "Tutuplah Ramadan ini dengan melakukan zakat fitrah dan jangan lupa memperbanyak istigfar pada Allah Subhaanahu Wata’ala”

Jika ada yang bertanya, apa yang harus kita katakan menjelang tutup Ramadan? Kita katakan perbanyak istigfar pada Allah Subhaanahu Wata’ala. Karena kita sadar, Ramadan hadiah yang terbaik untuk kita, yang belum kita tunaikan hak-haknya sebagaimana mestinya. Ramadan, tamu yang begitu agung, yang belum kita tunaikan hak-haknya sebagaimana mestinya, maka kita perbanyak istigfar kepada Allah Subhaanahu Wata’ala.

Ayat Keempat

Menyempurnakan Kebaikan, Ucapkan Takbir dan Syukur

Surah Al Baqarah ayat 185, "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur"

Allah menyiapkan bagaimana kita menutup Ramadan. Mari kita sempurnakan bilangan-bilangan Ramadan. Ramadan bukan cuma tanggal 27 Ramadan, sebagian orang kalau sudah merasa mendapatkan Lailatulkadar, masjid sudah sepi. Tidak ada lagi orang rajin ke masjid dengan klaim bahwa sudah dapatkan Lailatulkadar.

Seakan puncak Ramadhan adalah tanggal 27 tersebut. Mari kita sempurnakan, mari tetap semangat lakukan kebaikan-kebaikan hingga akhir. Karena sesungguhnya kebaikan itu sangat ditentukan pada bagian paling akhirnya.

Kemudian, ketika sudah datang pengumuman Lebaran, hilal sudah terlihat atau disempurnakan jadi 30 Ramadan, malam Syawal kita dianjurkan perbanyak takbiran. Sebagai bentuk kesyukuran pada Allah, membesarkan Allah yang telah berikan hidayah petunjuk pada kita mampu menyelesaikan Ramadan.

Banyak kesyukuran pada Allah, kita berterima kasih kepada Allah, kita gembira…Jika ada yang berkata bukankah Ramadan adalah tamu yang kita dirindukan, bukankah perpisahan dengannya adalah suatu kesedihan. Maka Jawabannya: benar, kita sedih Ramadan pergi, kita sedih, berat rasanya melepaskan kepergian Ramadan…

Tapi Seiring dengan itu kita juga bergembira karena menyambut hari kemenangan, kita bergembira karena Allah mudahkan selesaikan amanah Ramadan yang tidak ringan ini…

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasalllam menyebutkan pada sebagian hadis tentang keutamaan puasa di antaranya, ada dua kegembiraan, kebahagian ketika selesai puasa, baik puasa per hari nya maupun puasa satu bulannya. Hamba yang lemah mampu menyelesaikan titah perintah dari Zat yang agung Allah Subhaanahu Wata’ala. Apalagi ada janji bahwa kita akan bisa bertemu Allah di akhirat,maka kita gembira atas nikmat tersebut.

Ayat Kelima

Beribadah Hingga Kematian Datang

Surah Al Hijr ayat 99, "...dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)."

Ramadan bukan batas akhir ibadah, kita berhenti ibadah ketika ajal mendatangi kita…masih ada hari-hari melewati dunia. Jangan berhenti lakukan kebaikan. Karena kita baru tahu apakah Ramadan Kita ini berbuah, bermanfaat, diterima ketika kita termasuk orang-orang yang rajin beribadah setelah bulan suci Ramadan.

Imam Bukhari menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya patokan tolak ukur amalan itu dilihat bagian yang paling akhirnya, bagaimana kita menghadap Allah pada hari kematian kita begitulah keadaan kita nanti di akhirat, apakah kita husnul khatimah atau tidak”

Jangan pernah berhenti beribadah, baik di bulan Ramadhan dan setelah Ramadan pergi. Ketika hanya mengenal masjid ketika di bulan Ramadan, ketika hanya mau mengaji di bulan Ramadan. Maka jangan-jangan hanya beribadah kepada Ramadan, bukan kepada Allah pemilik Ramadan…

Kata Abubakar Assiddiq Radhiyallahu Anhu ketika sebagian sahabat hilang semangatnya waktu dengar Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam wafat. Beliau mengatakan, “Siapa yang beribadah kepada Muhammad, maka Muhammad telah mati, tapi siapa yang beribadah kepada Allah, Allah Maha hidup dan tidak mati”.

Ramadan pergi, tetapi ada bulan Syawal, pemilik Syawal juga pemilik bulan Ramadan…Mari terus perbanyak kebaikan-kebaikan, hingga Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menetapkan ajal kita. Kita tutup Ramadan kita tahun ini dengan sebaik-baiknya. Kita berdoa kepada Allah agar kita pun ditutup usia kita di dunia dengan husnul khatimah.

*) Diolah dari Materi Khutbah Jumat Ustaz Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA, PhD (Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab-STIBA Makassar)

Tags