Kamis, 07 Juni 2018 06:00 WITA

Tidak Semua Orang Raih Kemuliaannya, Ini Kunci untuk Mendapatkan Lailatukadar

Editor: Abu Asyraf
Tidak Semua Orang Raih Kemuliaannya, Ini Kunci untuk Mendapatkan Lailatukadar
ILUSTRASI

RAKYATKU.COMRAKYATKU.COM - Malam-malam terakhir Ramadan 1439 Hijriah ini menjadi ajang berburu lailatukadar bagi muslim muslim yang berpuasa. Ada yang melakukan iktikaf di masjid, sebagian lagi tetap beraktivitas seperti biasa sambil memperbanyak ibadah pada malam.lailatukadar bagi umat muslim yang berpuasa. Ada yang melakukan iktikaf di masjid, sebagian lainnya tetap beraktivitas seperti biasa sambil memperbanyak ibadah pada malam harinya.

Sudah menjadi pengetahuan umum, pada saat-saat terakhir yang penuh dengan kebaikan dan keberkahan, selamat dari segala sesuatu dan keburukan apapun, setan-setan tidak mampu melakukan kerusakan dan kejahatan sampai terbit fajar di pagi hari. lailatulkadar itu penuh dengan kebaikan dan keberkahan seluruhnya, selamat dari segala kejahatan dan keburukan apapun, setan-setan tidak mampu berbuat kerusakan dan kejahatan sampai terbit fajar di pagi harinya. 

Kapan turunnya lailatukadar? Tidak seorang pun yang dapat memastikannya. Ulama berbeda pendapat. Namun, mereka bersepakat bahwa lailatukadar turun pada malam ganjil pada 10 akhir Ramadan.lailatukadar? Tidak seorang pun yang dapat memastikannya. Ulama berbeda pendapat. Namun, mereka bersepakat bahwa lailatukadar turun pada malam ganjil pada 10 terakhir Ramadan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun tidak pernah menyebutkan secara tepat waktu turunnya lailatukadar. Beliau berusaha mencarinya pada 10 malam terakhir dengan melakukan iktikaf di masjid. Ia hanya menyebutkan beberapa tanda lailatulkadar turun.shallallahu alaihi wa sallam pun tidak pernah menyebut secara pasti waktu turunnya lailatukadar. Beliau berusaha mencarinya pada 10 malam terakhir dengan melakukan iktikaf di masjid. Beliau hanya menyebutkan beberapa tanda ketika lailatulkadar turun.

Dari Ubay bin Ka'b, beliau berkata, "Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu (matahari) terbit (pada pagi harinya) tanpa sinar (yang terik)."Ubay bin Ka’b, beliau berkata, "Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu (matahari) terbit (pada pagi harinya) tanpa sinar (yang terik)."

Lalu, hadits Ibnu Abbas, ia mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadr:“ Malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas atau dingin, matahari terbit (di pagi hari) dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik) "(HR. Ath Thayalisi yang disahihkan Syaikh Al Albani)Abbas, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang (tanda-tanda) Lailatul Qadr: “Malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin, matahari terbit (di pagi harinya) dengan cahaya kemerah-merahan (tidak terik)" (HR. Ath Thayalisi yang disahihkan Syaikh Al Albani)

Juga hadits Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya aku pernah diperlihatkan (bermimpi) Lailatul Qadr. Kemudian aku dibuat lupa, dan malam itu pada sepuluh malam terakhir. Malam itu malam yang mudah, indah, tidak (berudara) panas maupun dingin” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Demikian pula hadits Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Lailatul Qadr (terjadi) pada sepuluh malam terakhir. Barangsiapa yang menghidupkan malam-malam itu karena berharap keutamaannya, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang. Dan malam itu adalah pada malam ganjil, ke dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau malam terakhir di bulan Ramadhan,” dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tanda Lailatul Qadr adalah malam cerah, terang, seolah-olah ada bulan, malam yang tenang dan tentram, tidak dingin dan tidak pula panas. Pada malam itu tidak dihalalkan dilemparnya bintang, sampai pagi harinya. Dan sesungguhnya, tanda Lailatul Qadr adalah, matahari di pagi harinya terbit dengan indah, tidak bersinar kuat, seperti bulan purnama, dan tidak pula dihalalkan bagi setan untuk keluar bersama matahari pagi itu.” (HR. Ahmad)

Ada juga hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Carilah lailatul qadar di 10 malam terakhir, namun ketika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)

Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Carilah lailatul qadar di hari terakhir dari bulan Ramadan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa." (HR. Bukhari)

Amalan yang Dikerjakan pada Lailatukadar

Adapun keutamaan Lailatul Qadr, maka cukuplah bagi kita firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diterangkan di atas, "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan," (QS Al Qadr ayat 3-4)

Loading...

Berikut amalan yang dilakukan untuk meraih kemuliaan Lailatulkadar:

1. Melakukan Iktikaf

Sebagaimana hadits Aisyah, ia berkata, "Sesungguhnya Nabi melakukan iktikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau melakukan iktikaf setelahnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits lain dari Aisyah, ia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir, yang kesungguhannya tidak seperti pada waktu-waktu lainnya” (HR. Muslim)

Ada juga hadits lainnya dari Aisyah, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila memasuki sepuluh malam terakhir, (beliau) mengikat sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan istri-istrinya (untuk shalat malam)” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Katsir berkata: “Makna perkataan Aisyah ialah menjauhi istri (tidak menggaulinya), dan ada kemungkinan bermakna kedua-duanya (mengikat sarungnya dan tidak menggauli istri)” (Tafsir AlQuran Al Azhim)


2. Memperbanyak Doa

Ibnu Katsir berkata: “Dan sangat dianjurkan (disunnahkan) memperbanyak doa pada setiap waktu, terlebih lagi di bulan Ramadan, dan terutama pada sepuluh malam terakhir, di malam-malam ganjilnya” (Tafsir AlQuran Al Azhim)

Doa yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah, "Allahumma innaka 'afuwwun, tuhibbul 'afwa fa'fuanni". Itu sesuai hadis Aisyah radhiyallahu anha, “Aku (Aisyah) bertanya: “Wahai, Rasulullah. Seandainya aku bertepatan dengan malam Lailatul Qadr, doa apa yang aku katakan?” Beliau menjawab: “Katakan: Ya, Allah. Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, dan Engkau menyukai maaf. Maka, maafkan aku” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Ahmad, dan An Nasa'i)

3. Menghidupkan Malam Lailatul Qadr dengan Salat atau Ibadah Lainnya

Selain hadits Abu Hurairah, beliau berkata, “Dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:“ Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan (dari Allah), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang berhubungan dengan Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan (dari Allah), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu ”(HR. Bukhari dan Muslim) Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh keimanan dan pengharapan (dari Allah), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan (dari Allah), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim) 

Loading...
Loading...