Kamis, 07 Juni 2018 07:30 WITA

Tentang Wanita yang Iktikaf di Masjid dan Hal-Hal yang Membatalkannya

Editor: Abu Asyraf
Tentang Wanita yang Iktikaf di Masjid dan Hal-Hal yang Membatalkannya
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Umat islam saat ini sedang melakukan iktikaf di masjid-masjid. Tak hanya laki-laki, tidak sedikit perempuan yang ikut. Mereka berburu kemuliaan Lailatulkadar yang turun pada malam akhir Ramadan.

Apa itu iktikaf. Berikut beberapa informasi tentang iktikaf seperti mengutip dari Shahih Fiqh sebagai Sunnah wa Adillatuhu wa Taudhih Madzahib al A-immah melalui Wahdahpalu.or.id:


1. Makna Iktikaf

Iktikaf adalah tempat berdiam. Bagi orang yang beriktikaf di masjid disebut dengan muktakif atau 'akif.

Iktikaf disunnahkan di bulan Ramadan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu ia berkata: “Rasulullah shallallahu' alaihi wasallam beri'tikaf selama 10 hari pada setiap Ramadhan. Di tahun wafatnya, beliau beri'tikaf selama 20 hari ”. (HR. Al Bukhari)

Yang paling afdhalnya dilakukan di akhir Ramadan. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu' alaihi wasallam beriktikaf sepuluh hari terakhir dari Ramadan hingga Allah mewafatkannya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Disebutkan juga bahwa beliau pernah beriktikaf pada bulan terakhir di bulan Syawal, mengqadha 'iktikaf yang tidak beliau laksanakan di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang bernazar untuk beriktikaf sehari-hari atau lebih, maka wajib ninja itu. Dari Umar ibnul Khattab yang mengatakan kepada Nabi shallallahu'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah, aku telah bernazar di masa Jahiliyah untuk beriktikafnight di al Masjid al Haram". Beliau bersabda: "Penuhi nazarmu tersebut!". (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Tidak Disyariatkan Iktikaf kecuali di Masjid

Dengan dalil firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri) ketika kamu beriktikaf dalam masjid”. (QS. Al Baqarah: 187)

Jumhur ulama berpendapat bahwa iktikaf disyariatkan di setiap masjid dengan keumuman dalil ayat di atas walaupun terdapat perselisihan di antara mereka tentang status masjid tersebut masjid jami’ atau bukan.

3. Dibolehkan bagi Wanita beriktikaf di Masjid

Dalam hadits Aisyah : bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beriktikaf pada sepuluh terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkannya, kemudian istri-istrinya tetap beriktikaf setelahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tetapi disyaratkan bagi iktikafnya wanita tersebut dua hal: izin suaminya dan tidak ada fitnah pada iktikafnya itu, baik fitnah untuk dirinya atau untuk laki-laki.

4. Kapan Bermula dan Berakhirnya Iktikaf?

Barangsiapa yang berkeinginan untuk beriktikaf sepuluh terakhir di bulan Ramadan, maka yang sunnah adalah dia memasuki tempat iktikafnya setelah shalat fajar hari ke-21 sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah pendapatnya Imam al Auza’i, al Laits dan ats Tsaury.

Sementara para Imam yang empat berpendapat bahwa orang yang beriktikaf mulai memasuki tempat iktikafnya menjelang terbenamnya matahari hari ke-20. Mereka menafsirkan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits bahwa beliau memasuki masjid di awal malam dan mulai bersendirian dalam kemahnya di masjid setelah shalat fajar. Mereka juga mengatakan bahwa permulaan hari ke-21 itu dimulai saat terbenamnya matahari di hari ke-20.

Dengan dasar perselisihan itulah berbeda pula pendapat mereka tentang berakhirnya iktikaf tersebut. Menurut pendapat pertama, orang yang beriktikaf keluar dari tempat iktikafnya setelah shalat fajar di hari Id. Sementara pendapat kedua mengatakan ia keluar setelah terbenamnya matahari di hari terakhir Ramadan.

5. Apakah yang Membatalkan Iktikaf?

Iktikaf menjadi batal dan rusak dengan salah satu dari dua hal berikut ini:

a. Keluar masjid tanpa uzur syar’i dan tanpa keperluan yang sangat mendesak. Karenanya, tidak boleh keluar dari masjid kecuali untuk perkara yang tidak mungkin ditinggalkan seperti keluar untuk mendapatkan makan dan minum jika tidak didapatkan dalam masjid, atau keluar untuk buang hajat, mandi junub atau berwudhu’ jika tidak memungkinkan di masjid.

b. Bersetubuh. Para ulama bersepakat bahwa siapa yang menggauli istrinya di kemaluannya dan dia dalam keadaan beriktikaf, dilakukan dengan sengaja dan dalam keadaan ingat dan sadar bahwa dia sedang beriktikaf, maka saat itu iktikafnya batal. 

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istri) ketika kamu beriktikaf dalam masjid”. (QS. Al Baqarah: 187)

* Jika disyaratkan dalam niat iktikafnya untuk keluar masjid dalam urusan tertentu, seperti misalkan dia mensyaratkan untuk keluar mengikuti jenazah atau untuk pekerjaannya di siang hari, maka sebagian besar fuqaha’ mengatakan bahwa syaratnya itu tidak bermanfaat baginya dan jika dia melakukannya maka iktikafnya batal.

6. Apa saja yang Boleh dilakukan saat Iktikaf?

a. Keluar masjid untuk sebuah hajat yang sangat perlu, seperti mencari makan jika tidak ada di masjid.

b. Menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang mubah, seperti bercengkerama dengan orang lain, mengantarkan tamunya sampai ke pintu masjid.

c. Istri mendatangi suaminya di tempat iktikaf dan keduanya berduaan di tempat tersebut.

d. Membuatkan semacam tenda di bagian belakang masjid.

e. Menggunakan kasur tidurnya di masjid.

f. Meminang atau melakukan akad nikah bagi orang yang beriktikaf.

g. Boleh bagi wanita yang mustahadhah untuk beriktikaf dengan syarat menjaga agar jangan sampai darahnya mengotori masjid.

7. Di Antara Adab-Adab Iktikaf

Sangat dianjurkan bagi orang yang beriktikaf untuk menyibukkan dirinya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala seperti salat, membaca Alquran, berzikir, beristigfar, berdoa, membaca tafsir, mempelajari hadits, dan lain sebagainya.

Dan sangat dimakruhkan bagi seorang yang beriktikaf menyibukkan dirinya dengan pembicaraan atau perbuatan yang tidak bermanfaat, menjadikan majelis iktikafnya sebagai tempat berkunjung, bercanda dan memperbanyak pembicaraan dengan teman-teman duduknya. Hal seperti ini sangat jauh dari petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Tags