Kamis, 24 Mei 2018 02:00 WITA

Batalkah Salat jika Rambut Wanita Kelihatan atau Baju Pria Tersingkap?

Editor: Abu Asyraf
Batalkah Salat jika Rambut Wanita Kelihatan atau Baju Pria Tersingkap?
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Salah satu syarat sahnya salat adalah menutup aurat. Nah, bagaimana jika sementara salat, pakaian tersingkap, mungkin karena diterpa udara kipas angin atau penyebab lain yang tak disengaja?

Dewan Pembina Konsultasisyariah.com, Ustaz Ammi Nur Baits menguraikan sejumlah dalil yang membahas masalah ini. Dalam Islam, rambut dan seluruh bagian kepala wanita, termasuk aurat yang wajib ditutupi ketika salat. 

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, “Allah tidak menerima salat wanita yang telah balig, kecuali dengan memakai jilbab." (HR. Ibnu Khuzaimah, 775 dan Al-A’dzami mengatakan sanadnya shahih).

Ini yang menjadi dasar bahwa rambut wanita termasuk bagian yang harus ditutupi ketika salat. Bagaimana jika ada sedikit rambut yang keluar jilbab atau tersingkap sehingga kelihatan?

Untuk kasus ini, ulama memberikan rincian. Pertama, jika yang bersangkutan mengetahui dan segera membenahinya, maka salatnya sah. As-Syirazi --ulama Syafi’iyah-- mengatakan, "Jika bajunya diterpa angin hingga terbuka auratnya, kemudian langsung dia tutup kembali, maka salatnya tiak batal." (al-Muhadzab, 1/87)

Kedua, yang bersangkutan mengetahui dan tidak segera menutupi

Ulama berbeda pendapat. Pendapat pertama, hukumnya batal. Karena terbuka aurat, baik sedikit maupun banyak hukumnya sama saja. Ini adalah pendapat Imam as-Syafi’i. Pendapat kedua, hukumnya tidak batal. Karena hanya sedikit. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah.

Ibnu Qudamah mengatakan, "Jika aurat orang yang shalat terbuka sedikit, salatnya tidak batal. Ini ditegaskan oleh Ahmad dan pendapat Abu Hanifah. Sementara as-Syafii mengatakan, salatnya batal. Karena ini hukum terkait aurat, sehingga sama saja sedikit maupun banyak, sebagaimana melihat." (al-Mughni, 1/651).

Ada satu hadis yang bisa dijadikan acuan, hadis dari Amr bin Salamah radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan, “Kami tinggal di kampung yang dilewati para sahabat ketika mereka hendak bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Sepulang mereka dari Madinah, mereka melewati kampung kami. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian dan demikian. Ketika itu, saya adalah seorang anak yang cepat menghafal, sehingga aku bisa menghafal banyak ayat Alquran dari para sahabat yang lewat. Sampai akhirnya, ayahku datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama masyarakatnya, dan beliau mengajari mereka tata cara salat. Beliau bersabda, "Yang menjadi imam adalah yang paling banyak hafalan Qurannya."

Sementara Aku (Amr bin Salamah) adalah orang yang paling banyak hafalannya, karena aku sering menghafal. Sehingga mereka menyuruhku untuk menjadi imam. Akupun mengimami mereka dengan memakai pakaian kecil milikku yang berwarna kuning. Ketika aku sujud, tersingkap auratku. Hingga ada seorang wanita berkomentar, "Tolong tutupi itu itu aurat imam kalian."

"Kemudian mereka membelikan baju Umaniyah untukku. Tidak ada yang lebih menggembirakan bagiku setelah Islam, melebihi baju itu. (HR. Abu Daud 585 dan dishahihkan al-Albani)

Yang dimaksud terbuka aurat dalam kasus ini adalah terbuka sedikit auratnya. Dan salat mereka tidak batal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak menyuruh para jemaah untuk mengulangi salat. Inilah yang menjadi acuan jumhur ulama bahwa sedikit aurat yang tersingkap, dan tidak langsung ditutup, tidak membatalkan salat.

Syaikhul Islam mengatakan, jika ada rambut atau anggota badan wanita yang tersingkap sedikit, maka tidak ada kewajiban untuk mengulangi salat menurut mayoritas ulama. Ini pendapat Abu Hanifah dan Ahmad. Namun jika yang tersingkap itu banyak, wajib mengulangi salat di waktunya, menurut para ulama, baik ulama empat mazhab maupun yang lainnya.

Tags

Berita Terkait